Setu Babakan
Jalan-jalan ke Setu Babakan untuk kedua kalinya membuatku merasa lebih bersyukur. Betapa tidak?Tiga setengah tahun yang lalu saat datang ketempat ini pemandangan yang terlihat disekitar danau banyak didominasi oleh sampah. Mulai dari sampah daun sampai sampah buangan pengunjung berupa plastik dan kertas. Tapi syukur, untuk saat ini tempat itu sudah berubah lebih cantik, lebih bersih, lebih manusiawi.
Kedatangan ke dua ditempat ini, seperti kedatangn yang pertama juga untuk keperluan kerja yaitu meliput sebagian dari kegiatan yang ada di
Setu Babakan sendiri merupakan salah satu setu (danau) yang masih ada di Jakarta. Tempat ini berada dipinggiran Jakarta yaitu diwilayah Jagakarsa. Setu ini menjadi salah satu penyangga keberadaan air untuk Jakarta. Pada saat hujan tempat ini akan menjadi tempat penampungan alami untuk air hujan dan pada saat musim kemarau dari tempat inilah sebagian air untuk penduduk Jakarta disediakan.
Setu Babakan bahkan oleh Pemerintah DKI menjadi salah satu tempat yang di lindungi. Hal ini juga berhubungan erat dengan keberadaan masyarakat adat Betawi yang menjadi cikal-bakal kota Jakarta. Disetu babakan ini keberadaan dan eksistensi budaya betawi terus dipertahankan dan dikembangkan.
Melihat anak-anak kecil belajar tari-tarian betawi menjadi pemandangan yang susah saya temui ditempat yang semakin sibuk ini. Sungguh bahagia saya bisa menyaksikan pemandangan ini. Melihat kelucuan yang kadang muncul saat mereka mengikuti aba-aba dari pembimbingnya, menjadi obat hati yang tak terperi. Atau tiba-tiba ada anak yang lupa gerakan karena melihat teman lain.
Melihat ibu-ibu yang antusias mengantar anak-anak mereka untuk datang belajar kesini membuat saya berharap setidaknya untuk waktu yang lama saya akan bisa menikmati keindahan tarian-tarian ini.
Semoga saat saya datang kembali semua berubah menjadi lebih baik lagi. Semoga tari-tarian ini akan terus ada di Setu Babakan
Add comment Maret 2, 2008
Swiss in Indonesia
Menikmati Garut, menikmati udara segarnya menghilangkan semua kejenuhan yang saya bawa dari Jakarta. Meski bukan sebagai liburan tapi bagian dari kerja tapi itu sudah cukup memberi kegembiraan untuk saya.
Sambutan perbukitan hijau dikiri kanan jalan sungguh memberi sensasi rasa yang tak pernah dan memang takkan saya temui di Jakarta. Jika sempat bertandang kekota ini jangan tutup jendela anda.Biarkan udara memenuhi paru-paru, mengganti udara yang kita bawa dari Jakarta.Atau biarkan udara membawa terbang semua beban yang selamna ini menghimpit.
Beruntung juga penginapan yang saya tempati adalah salah satu penginapan terbaik yang ada di kota Garut yaitu hotel dengan nama Kampung Sampireun. Sampai sekarang lidah saya tidak bisa dengan benar melafalkan kata sampireun(seperti juga kata’lieur’). Tapi setidaknya saya bisa fasih untuk menikmati setiap ruang yang ada dipenginapan ini.
Saat sampai di Kampung Sampireun keramahan khas orang desa diwujudkan dengan senyum dan juga segelas minuman bandrek untuk menghangatkan badan.Karena udara di penginapan ini memeng lumayan dingin meski siang hari.Krupuk diwadah toples bening juga boleh dinikmati.
Selesai urusan check in saatnya untuk membawa semua barang dan perlengkapan perang(kerja) ke vila.Untuk sampai ke vila saya harus menggunakan sampan. Karena takut sampan terbalik sampan hanya dinaiki dua orang ditambah barang.Tapi karena sampan ada beberapa biji kami semua bisa jalan semua. Sampan ini memiliki nomor yang sesuai dengan nomor kamar.
Setelah urusan barang selesai, saatnya main sampan sambil menunggu sore. Dengan sampan saya berkeliling menikmati udara segar Kampung Sampireun ini.Dari atas sampan anda juga bisa menikmati musik sunda ala Kampung Sampireun, ini jika anda beruntung. Karena live music dipanggung diatas air ini tidak tiap hari selalu ada.Bahkan saya sempat menengok apakah di Kampung ini punya tetangga,jadi dengan sampan saya sempatkan untuk berkeliling danau menengok apakah rumah-rumah diatas air ini ada penghuninya semua.Kebanyakan tetangga saya adalah orang-orang yang sedang berbulan madu entah yang keberapa.Beberapa lagi wisatawan Jepang kalau didengar dari bicaranya.Bahkan beberapa keluarga menginap disini.Suasana yang tenang,udara yang bersih,pemandangan yang indah memang menjadi daya tarik dari Kampung Sampireun.Yang penting jangan pernah anda datang sendiri.Tetapi ada teman saya seorang penulis buku pernah mengatakan jika ingin membuat novel datanglah kesini.Bawa ide dasarnya terusa menginap disini seminggu,suasana romantis dijamin akan membantu anda menemukan inspirasi dalam menulis.
Selain menikmati sampireun saya juga sempat menikmati beberapa tempat. Antara lain pemandangan kawah Kamojang.Kawah yang terkenal dengan Kawah Kereta-nya yang jika dipermainkan bunyinya seperti bunyi kereta.Bahkan saya juga sempat menikmati panasnya sauna alam dikawah ini. Atau anda ingin menikmati akupunktur alami?Disini juga ada.
Tempat lain yang saya kinjungi adalah Masjid Agung Garut yang menjadi kebanggaan masyarakat Garut.Bahkan keindahan yang mengelilingi candi Cangkuang menjadi pemandangan yang tak kalah indah.Jalan-jalan kekota menyusuri kota tua Garut,menikmati makanan khas kota ini menjadi pengalaman yang tak ternilai. Es Goyobod,dodol,sambal cibiuk adalah sebagian dari kekayaan kuliner kota ini.
Masih banyak cerita yang sebenarnya ingin saya dapati dikota ini. Cerita tentang domba adu,tempat wisata Cipanas,kerajinan kulit dan tempat lain yang belum sempat saya kunjungi.
Kapan bisa ke Garut lagi ya?
Add comment Februari 16, 2008
INDAHNYA KASIH SAYANG
Alkisah disuatu desa yang terpencil tinggal keluarga yang miskin. Saking miskinya untuk makan pun mereka sangat berhemat. Kedua orang tua bekerja seadanya, saat musin tanam tiba mereka dengan giat ikut menjadi kuli untuk menanam. Saat panen menjelang mereka mempersiapkan diri untuk bekerja pada orang-orang kaya didesa mereka menuai padi. Namun tak jarang mereka harus berjalan kaki berpuluh kilometer untuk menjual kayu bakar dikota dan menukarkan hasilnya dengan bahan makanan.
Keluarga ini mempunyai dua orang anak yang duduk di bangku sekolah dasar. Untuk bersekolah keduanya harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer. Belum lagi medan yang berbukit-bukit dan jalanan yang masih berupa tanah harus mereka tempuh. Keduanya harus bangun pagi-pagi sekali agar tidak terlambat sampai kesekolah. Perjalanan dengan jauh yang sama harus mereka tempuh dibawah terik matahari saat pulang sekolah.
Sampai satu saat keduanya berhasil menamatkan sekolah mereka sampai sekolah menengah pertama. Sang adik memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu pekerjaan orang tuanya. Selain itu ia meminta kakaknya untuk melanjutkan sekolah dan berjanji akan membantu kakaknya sekuat tenaga.
Beberapa tahun kemudian sang kakak lulus dari perguruan tinggi dan menjadi seorang sarjana dengan predikat sangat memuaskan. Dengan ijasah itu Sang Kakak mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan lebih dari cukup. Tidak berapa lama Sang Kakak menikah dengan seorang direktur sebuah perusahaan pribadi yang mulia perilakunya.
Akhir kata Sang Kakak mengajak orang tua dan adiknya untuk pindah kekota. Tetapi dengan halus kedua orang tuanya menolak dan mengatakan seandainya mereka pergi siapa yang akan merawat kakek dan nenek yang sudah buta? Kakek ingin meninggal saat anak-anaknya ada didekatnya. Sedangkan Sang Adik beralasan ingin membantu dan menjaga kedua orang tuanya.
Satu saat Sang Adik menikah. Dalam suasana yang menenteramkan mereka dapat berkumpul kembali seperti waktu kecil dulu. Bercengkerama hangat menceritakan kejadian-kejadian yang mengantar mereka menjadi seperti saat ini.
Sang Kakak berterima kasih kepada orang tuanya yang telah memberikan kasih sayang yang sangat besar meskipun saat itu dalam keadaan yang sangat kekurangan. Ia sangat bersyukur mempunyai orang tua yang melimpahi dirinya dengan perhatian. Sang Kakak juga berterima kasih dengan Sang Adik yang telah mendukung hingga dirinya bisa menjadi seperti saat ini. Sang Kakak sangat bersyukur dikarunia keluarga yang penuh dengan kasih sayang.
Dalam suasana hening Sang Adik memeluk Sang Kakak. Dengan berurai air mata diucapkanya rasa terimakasih yang sangat tulus untuk Sang Kakak dan kedua orang tuanya. Sang Kakak tercenung. Baru kali ini dilihatnya Sang Adik yang sangat tegar, bersimpuh dengan barurai air mata.
Kemudian Sang Adik bercerita.”Satu hari saat dimusim hujan, kami hendak pulang selesai pelajaran di sekolah dasar. Ditengah perjalanan hujan turun dengan lebat. Baju seragam satu-satunya akan basah kuyup seandainya kami tetap memakainya. Dengan plastik yang kami temukan dijalan kami memutuskan untuk membungkus buku dan seragam sekolah. Tetapi plastik itu hanya muat untuk buku dan satu baju punyaku. Saat itu kakak memutuskan untuk melepas baju dan memberikanya padaku untuk aku pakai. Dengan selembar daun pisang kami berharap seragam ini akan tetap kering sampai kerumah. Tetapi karena kedinginan dan kecapaian aku tak mampu lagi berjalan. Kakak kemudian menggendongku sampai kerumah. Baju yang aku pakai pun akhirnya basah kehujanan.. Pada malam harinya aku mendapati kakak sedang mengeringkan baju yang basah. Buku-buku yang terkena air juga dikeringkan. Tetapi saat itu aku baru tahu kalau tangan kanan Kakak membiru dan mati rasa karena kedinginan. Kaki Kakak juga bengkak terkena duri sepanjang perjalanan. Bahakan beberapa luka mengeluarkan darah yang mulai mongering. Tetapi tetap tidak keluar keluhan dari Kakak. Malah dengan tegar Kakak merebuskan air untuk mengahangatkan badanku. Pada saat itulah aku berjanji dalam hati. Apapun akan lakukan untuk membalas seluruh kasih sayang yang telah diberikan Kakak. Karena Kakak lah yang menjadikan hidupku bisa seperti sekarang ini. Terima kasih untuk kasih sayang yang Kakak berikan padaku.”
Berkaca dari kisah diatas alangkah indahnya sebuah kasih sayang. Pada dasarnya kehidupan manusia adalah lingkaran tolong menolong. Dengan kasih sayang tulus semua cobaan yang berat akan terasa lebih nikmat untuk dijalani. Tanpa kasih sayang kepada orang lain jangan berharap kemuliaan datang kepada anda. Tidak ada uang yang datang kepada anda tanpa perantara orang lain. Sudah bukan masanya lagi uang jatuh tiba-tiba dari langit. Tidak ada pangkat yang datang tanpa anda berbuat baik pada atasan atau bawahan anda. Tidak ada kehormatan yang datang dengan tiba-tiba tanpa perantara orang lain.
Karena semua kualitas hidup anda semua melalui orang lain sudah semestinya anda memperbaiki hubungan dengan orang lain itu dengan lebih baik. Jika anda minta kepada Tuhan kemuliaan maka mulai saat ini perbaiki hubungan anda dengan orang orang disekitar anda. Karena kemuliaan dari Tuhan selalu diberikan melalui perantara orang lain.
Anda dikatakan mulia karena itu pendapat orang lain, anda dikatakan kaya karena itu perkataan orang, anda dianggap baik itu menurut orang. Anda menjadi pemimpin karena ada perantara orang berupa orang yang mau dipimpin. Jadi akan sangat aneh jika ada seorang pemimpin yang bersikap buruk kepada orang-orang yang dipimpinya. Jika anda karyawan anda mendapat gaji melalui perantara orang lain bukan? Jika anda seorang sales marketing anda mendapat bisa menjual karena ada orang lain bukan? Jika anda seorang direktur perusahaan anda mendapat keuntungan dari kerjasama dengan orang lain bukan? Jika anda seorang penceramah, anda dikatakan penceramah baik jika ada orang yan gmau mendengar ceramah anda bukan? Tidak ada kebaikan, kemuliaan yang anda dapat dari Tuhan tanpa melalui perantara orang lain. Semakin banyak orang yang menjadi perantara kemuliaan anda maka semakin mudah Tuhan menurunkan kemuliaan kepada anda.
Karena itu dengan kasih sayang muliakan manusia, maka Tuhan akan memuliakan kita semua. Amin
****** Semoga bermanfaat
Add comment Februari 1, 2008
SEWINDU ANAK JAWA
Usia sewindu bagi anak jawa adalah usia transisi dimana seorang anak akan menuju pada masa remaja. Masa ini disebut juga sebagai masa akil baligh. Saat usia sewindu seorang anak jawa untuk menuju pada masa remajanya antara lain ditandai dengan prosesi khitan untuk anak laki-laki dan tetesan untuk anak perempuan.
Untuk mengantar anak menuju masa dewasa, orang-orang tua Jawa diharuskan memberi wewarah kepada anak-anaknya sebagai bekal menghadapi dunia yang jauh lebih kompleks. Wewarah ini antara lain disampaikan orang tua melalui perlambang-perlambang dalam upacara sebelum prosesi khitan atau tetesan dalam berbagai kemasan.
Ritual awal seorang anak laki-laki sebelum dikhitan terlebih dahulu dimasukkan kedalam kerobong atau semacam kurungan dengan iringan doa-doa saat membuka kurungan sebagai perlambang bahwa pada mulanya seorang anak(manusia) sebelum dilahirkan berada dalam keadaan yang terkurung didalam rahim seorang ibu. Selain menandakan prosesi kelahiran, ritual ini juga bisa diartikan sebagai proses perpindahan masa yaitu dari masa anak-anak menuju masa remaja.
Perlambang lain diungkapkan oleh orang tua Jawa dengan berbagai sesaji yang disediakan. Sesaji ini berupa makanan dan benda-benda yang melambangkan daur kehidupan manusia. Misalnya adalah dian (lampu/pelita), menandakan bahwa untuk mengarungi hidup seseorang harus mempunyai alat untuk menerangi jalan yang akan dilaluinya. Selain itu juga dian juga menandakan bahwa pada hakekatnya setiap hidup manusia hendaknya berguna dengan untuk sesama yaitu menjadi penerang hidup bagi sesamanya. Dan tujuan hidup manusia yang terakhir adalah perjalanan hidup menuju terang, menuju cahaya, menuju yang memiliki cahaya yaitu Allah Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam sesaji ini disediakan juga berbagai bahan makanan yang berupa pala kependem, pala kesiwar dan pala gumantung. Sesaji ini sebagai perlambang bahwa untuk dapat hidup seseorang memerlukan bekal. Bekal hidup dapat diperoleh antara lain dari dalam tanah, dipermukaan dan diatas tanah. Bekal yang masih mentah ini untuk selanjutnya agar lebih berguna maka perlu untuk mengolah dan memanfaatkanya lebih lanjut.
Karena itu orang tua Jawa kemudian memberi perlambang selanjutnya adalah dengan makanan-makanan yang matang. Makanan sebagai perlambang antara lain yaitu berupa jenang, gula kelapa setangkep, lepet, kupat, jajan pasar dan tumpeng dengan lauk. Didalam makanan ini juga terkandung simbol perjalanan hidup seseorang. Jenang segi empat menandakan bahwa pada dasarnya arah mempunyai empat penjuru, yaitu Utara. Selatan, Timur dan Barat. Jenang dengan rasa manis memberi gambaran seandainya seseorang mampu menaklukan kempat arah itu maka hidupnya akan semanis rasa jenang.
Untuk mengarungi bahtera kehidupan pasti seseorang memerlukan teman seperjalan. Teman yang memberi semangat dalam suka dan duka. Teman seperti ini akan menjadikan hidup lebih indah(manis). Perlambang ini dapat kita temui dalam sesaji berupa gula kelapa setangkep. Gula kelapa setangkep juga bisa diartikan sebagai sepasang laki-laki dan perempuan, kehidupan selalu berpasang-pasangan.
Dalam perjalan kehidupan seseorang terkadang juga melakukan berbagi macam kesalahan. Dan sebagai sebagai keharusan pula seorang anak Jawa harus berani mengakui kesalahan kesalahan itu dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya. Perlambang dalam sesaji sewindu anak Jawa ini yaitu berupa lepet dan kupat. Lepet berasal dari kata lepat yang berarti salah. Dan dengan berani seorang anak jawa harus mengakui kesalahanya yang ditandai dengan kupat yang berasasl dari kata ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan.
Sesaji berupa jajan pasar dengan berbagai bentuk rupa, warna dan rasa menandakan bahwa kehidupan didunia terdiri dari bermacam-macam manusia. Ada yang berkulit hitam, putih, kuning. Ada yang tinggi, pendek, besar kecil. Ada yang keriting lurus, ikal. Ada yang kurus gemuk dsb. Dengan banyaknya warna kehidupan ini seorang anak Jawa harus mampu menjadi orang yang toleran. Menerima setiap perbedaan sesuai dengan fitrahnya.
Selain dengan wewarah berupa perlambang dari sesaji seorang anak Jawa juga dibekali wewarah langsung dari orang tuanya atau dari orang yang dituakan dikampung. Wewarah antara lain disampaikan melalui tembang yang sering dinyanyikan bersama-sama yaitu berupa tembang ilir-ilir. Dalam tembang ini terkandung pelajaran nilai moral, etika dan spiritual seorang anak Jawa. Ada pendapat yang menciptakan tembang ini adalah Sunan Giri, namun ada yang mengatakan diciptakan oleh Sunan Kalijaga.
Pesan dalam tembang ini tidak hanya ditujukan kepada anak Jawa yang akan memasuki akil bligh tetapi juga ditujukan kepada orang tua si anak yaitu agar orang tua membekali anak dengan bekal yang sebaik-baiknya.
Syair’Ilir-ilir, ilir-ilir tandure wis sumilir’ mengandung arti sadarlah, bangun dari mimpi-mimpi, kehidupan mulai berjalan. Jika diuraikan lebih lanjut tembang ini megingatkan kepada orang tua agar sadar kalau anak-anak mereka mulai tumbuh. Jadi bangunkan mereka dari mimpi-mimpi masa kanak-kanaknya. Anak-anak ini harus mulai belajar memahami kehidupan. Manusia diingatkan untuk bangun dari dari tidur, dari kebodohan, dari kemiskinan, dari keterbelakangan, untuk melihat tandure(kehidupan/masa depan) yang sumilir(terus bergerak).
‘Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar’. Pertumbuhan anak yang baik ditandai dengan kalimat ‘tak iji royo-royo’. Seperti proses tumbuh tanaman yang ditandai dengan daun hijau segar menandakan bahwa pertumbuhan itu berjalan dengan baik. Proses tumbuh seorang anak yang baik diperlambangkan dengan warna hijau yang menyejukkan, menyenangkan, seperti sepasang pengantin baru yang membuat senang orang yan melihatnya. Ijo royo-royo(Hijau yang berkilau) juga sebagai penanda harapan hidup yang cerah dimasa datang.
‘Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodot ira’. Panjatlah blimbing itu, meskipun susah, panjatlah, untuk membasuh baju kehidupanmu. Meskipun untuk meraih kebahagiaan hidup sangat susah, seorang anak tidak boleh menyerah. Meskipun buah kebahagiaan itu berada ditempat yang lunyu(susa diraih) seorang anak Jawa haru berusaha sekuat tenaga meraihnya. Sesusah apapun harus dicapai untuk membasuh dodot iro. Dodot iro adalah baju kehidupanmu. Baju kehidupan adalah perbuatan-perbuatan yang dikerjakan seorang manusia Jawa dalam kehidupannya.
‘Dodot iro-dodot iro kumitir bedah ing pinggir, dandamana, jlumatana kanggo seba mengko sore. Baju kehidupan kadang mengalami sobek dipingginya karena itu dandamana, jlumatana(jahitlah), perbaiki baju itu untuk bekal nanti sore. Dalam perjalanan hidupnya seorang manusia Jawa tidak lepas dari kesalahan, karena itu sebelum datangnya waktu sore, maka perbaiki bekal untuk menuju waktu sore itu. Jika baju-baju kehidupan ini tidak segera diperbaiki maka seorang manusia Jawa akan sengsara dimasa sorenya(tua). Maka perbaiki baju-baju yang robek itu untuk menyongsong sore yang lebih indah.
‘Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane’. Mumpung masih ada kesempatan, mumpung masih ada jalan. Selama masih ada waktu untuk memperbaiki baju-baju kehidupan, selama masih ada jalan maka perbaikilah. ‘Gya suraka, surak hore’. Maka bertepuk tanganlah dan berserulah hore. Jika baju-baju kehidupan itu telah berhasil diperbaiki maka semua akan menjadi bahagia. Maka bersama-samalah bertepuk tangn dan katakana hore, dan bersama-sama menuju kehidupan yang bahagia selama-lamanya.
Setelah ilir-ilir dilantukan dan dibabar(dikaji) maka semua hidangan makanan yang dinikmati bersama-sama dalam suasana gayeng(menyenangkan). Saat itu pula anak jawa diajarkan untuk selalu berbagi kebahagiaan kepada semua orang. Berbagi ilmu, berbagi rejeki, berbagi kebaikan kepada semua mahluk ciptaan tuhan.
*** Mohon perbaikan kalau ada kesalahan
1 comment Januari 23, 2008
Jalan-jalan Banjarmasin
Sudah dua kali saya menginjakkan kaki ke Borneo or Kalimantan. Sebenarnya saya lebih suka untuk menyebut Borneo karena kesan akrab saat mengatakanya. Perjalanan saya yang pertama dulu adalah ke Pontianak dan sekitarnya. Sayang perjalan pertama itu tidak sempat saya abadikan dalam bentuk foto.
Tanah Borneo adalah ’Tanah Air’ dalam arti yang sebenarnya. Kenapa saya sebut tanah air? Karena pulau ini adalah pulau air. Jadi tanah yang ada di pulau ini bisa dikatakan tanah yang menyembul dari dalam air. Kemanapun anda saya pergi dalam hitungan jam bahkan menit maka akan ditemui sungai-sungai yang menghubungkan dua daratan.Bahkan untuk transportasi utama di pulau ini adalah transportasi air.
Dialiran sungai inilah nafas hidup sebagian besar orang-orang borneo bergantung. Mulai dari untuk urusan mandi, mencuci, urusan buang-buang’penyakit’, sampai urusan mencari sumber penghidupan.
Namun pada beberapa bagian lainya Borneo menyimpan eksotisme yang mungkin jarang dilihat oleh para pendatang. Beruntung saya sempat menikmati sedikit dari beberapa tempat eksotisme itu. Perjalan panjang terasa nikmat karena disepanjang perjalan saya dapat menikmati pesona alam Borneo. Rumah-rumah adat yang telah termakan usia, hutan bambu pada beberapa sisi, hulu sungai dengan air jernihnya, ngarai dengan akhir sungai, dinding dinding bebatuan alam bahkan tawa riang bocah-bocah kecil yang melambaikan tangan meski saya tak mengenal mereka.
Dengan kamera digital murah saya mencoba mengabadikan momen ini. Foto
Satu saat saya berharap bisa mengelilingi nusantara meskipun hanya sebentar dan mengabadikanya dalam hati.
1 comment Januari 17, 2008