Archive for Januari, 2008
SEWINDU ANAK JAWA
Usia sewindu bagi anak jawa adalah usia transisi dimana seorang anak akan menuju pada masa remaja. Masa ini disebut juga sebagai masa akil baligh. Saat usia sewindu seorang anak jawa untuk menuju pada masa remajanya antara lain ditandai dengan prosesi khitan untuk anak laki-laki dan tetesan untuk anak perempuan.
Untuk mengantar anak menuju masa dewasa, orang-orang tua Jawa diharuskan memberi wewarah kepada anak-anaknya sebagai bekal menghadapi dunia yang jauh lebih kompleks. Wewarah ini antara lain disampaikan orang tua melalui perlambang-perlambang dalam upacara sebelum prosesi khitan atau tetesan dalam berbagai kemasan.
Ritual awal seorang anak laki-laki sebelum dikhitan terlebih dahulu dimasukkan kedalam kerobong atau semacam kurungan dengan iringan doa-doa saat membuka kurungan sebagai perlambang bahwa pada mulanya seorang anak(manusia) sebelum dilahirkan berada dalam keadaan yang terkurung didalam rahim seorang ibu. Selain menandakan prosesi kelahiran, ritual ini juga bisa diartikan sebagai proses perpindahan masa yaitu dari masa anak-anak menuju masa remaja.
Perlambang lain diungkapkan oleh orang tua Jawa dengan berbagai sesaji yang disediakan. Sesaji ini berupa makanan dan benda-benda yang melambangkan daur kehidupan manusia. Misalnya adalah dian (lampu/pelita), menandakan bahwa untuk mengarungi hidup seseorang harus mempunyai alat untuk menerangi jalan yang akan dilaluinya. Selain itu juga dian juga menandakan bahwa pada hakekatnya setiap hidup manusia hendaknya berguna dengan untuk sesama yaitu menjadi penerang hidup bagi sesamanya. Dan tujuan hidup manusia yang terakhir adalah perjalanan hidup menuju terang, menuju cahaya, menuju yang memiliki cahaya yaitu Allah Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam sesaji ini disediakan juga berbagai bahan makanan yang berupa pala kependem, pala kesiwar dan pala gumantung. Sesaji ini sebagai perlambang bahwa untuk dapat hidup seseorang memerlukan bekal. Bekal hidup dapat diperoleh antara lain dari dalam tanah, dipermukaan dan diatas tanah. Bekal yang masih mentah ini untuk selanjutnya agar lebih berguna maka perlu untuk mengolah dan memanfaatkanya lebih lanjut.
Karena itu orang tua Jawa kemudian memberi perlambang selanjutnya adalah dengan makanan-makanan yang matang. Makanan sebagai perlambang antara lain yaitu berupa jenang, gula kelapa setangkep, lepet, kupat, jajan pasar dan tumpeng dengan lauk. Didalam makanan ini juga terkandung simbol perjalanan hidup seseorang. Jenang segi empat menandakan bahwa pada dasarnya arah mempunyai empat penjuru, yaitu Utara. Selatan, Timur dan Barat. Jenang dengan rasa manis memberi gambaran seandainya seseorang mampu menaklukan kempat arah itu maka hidupnya akan semanis rasa jenang.
Untuk mengarungi bahtera kehidupan pasti seseorang memerlukan teman seperjalan. Teman yang memberi semangat dalam suka dan duka. Teman seperti ini akan menjadikan hidup lebih indah(manis). Perlambang ini dapat kita temui dalam sesaji berupa gula kelapa setangkep. Gula kelapa setangkep juga bisa diartikan sebagai sepasang laki-laki dan perempuan, kehidupan selalu berpasang-pasangan.
Dalam perjalan kehidupan seseorang terkadang juga melakukan berbagi macam kesalahan. Dan sebagai sebagai keharusan pula seorang anak Jawa harus berani mengakui kesalahan kesalahan itu dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya. Perlambang dalam sesaji sewindu anak Jawa ini yaitu berupa lepet dan kupat. Lepet berasal dari kata lepat yang berarti salah. Dan dengan berani seorang anak jawa harus mengakui kesalahanya yang ditandai dengan kupat yang berasasl dari kata ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan.
Sesaji berupa jajan pasar dengan berbagai bentuk rupa, warna dan rasa menandakan bahwa kehidupan didunia terdiri dari bermacam-macam manusia. Ada yang berkulit hitam, putih, kuning. Ada yang tinggi, pendek, besar kecil. Ada yang keriting lurus, ikal. Ada yang kurus gemuk dsb. Dengan banyaknya warna kehidupan ini seorang anak Jawa harus mampu menjadi orang yang toleran. Menerima setiap perbedaan sesuai dengan fitrahnya.
Selain dengan wewarah berupa perlambang dari sesaji seorang anak Jawa juga dibekali wewarah langsung dari orang tuanya atau dari orang yang dituakan dikampung. Wewarah antara lain disampaikan melalui tembang yang sering dinyanyikan bersama-sama yaitu berupa tembang ilir-ilir. Dalam tembang ini terkandung pelajaran nilai moral, etika dan spiritual seorang anak Jawa. Ada pendapat yang menciptakan tembang ini adalah Sunan Giri, namun ada yang mengatakan diciptakan oleh Sunan Kalijaga.
Pesan dalam tembang ini tidak hanya ditujukan kepada anak Jawa yang akan memasuki akil bligh tetapi juga ditujukan kepada orang tua si anak yaitu agar orang tua membekali anak dengan bekal yang sebaik-baiknya.
Syair’Ilir-ilir, ilir-ilir tandure wis sumilir’ mengandung arti sadarlah, bangun dari mimpi-mimpi, kehidupan mulai berjalan. Jika diuraikan lebih lanjut tembang ini megingatkan kepada orang tua agar sadar kalau anak-anak mereka mulai tumbuh. Jadi bangunkan mereka dari mimpi-mimpi masa kanak-kanaknya. Anak-anak ini harus mulai belajar memahami kehidupan. Manusia diingatkan untuk bangun dari dari tidur, dari kebodohan, dari kemiskinan, dari keterbelakangan, untuk melihat tandure(kehidupan/masa depan) yang sumilir(terus bergerak).
‘Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar’. Pertumbuhan anak yang baik ditandai dengan kalimat ‘tak iji royo-royo’. Seperti proses tumbuh tanaman yang ditandai dengan daun hijau segar menandakan bahwa pertumbuhan itu berjalan dengan baik. Proses tumbuh seorang anak yang baik diperlambangkan dengan warna hijau yang menyejukkan, menyenangkan, seperti sepasang pengantin baru yang membuat senang orang yan melihatnya. Ijo royo-royo(Hijau yang berkilau) juga sebagai penanda harapan hidup yang cerah dimasa datang.
‘Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodot ira’. Panjatlah blimbing itu, meskipun susah, panjatlah, untuk membasuh baju kehidupanmu. Meskipun untuk meraih kebahagiaan hidup sangat susah, seorang anak tidak boleh menyerah. Meskipun buah kebahagiaan itu berada ditempat yang lunyu(susa diraih) seorang anak Jawa haru berusaha sekuat tenaga meraihnya. Sesusah apapun harus dicapai untuk membasuh dodot iro. Dodot iro adalah baju kehidupanmu. Baju kehidupan adalah perbuatan-perbuatan yang dikerjakan seorang manusia Jawa dalam kehidupannya.
‘Dodot iro-dodot iro kumitir bedah ing pinggir, dandamana, jlumatana kanggo seba mengko sore. Baju kehidupan kadang mengalami sobek dipingginya karena itu dandamana, jlumatana(jahitlah), perbaiki baju itu untuk bekal nanti sore. Dalam perjalanan hidupnya seorang manusia Jawa tidak lepas dari kesalahan, karena itu sebelum datangnya waktu sore, maka perbaiki bekal untuk menuju waktu sore itu. Jika baju-baju kehidupan ini tidak segera diperbaiki maka seorang manusia Jawa akan sengsara dimasa sorenya(tua). Maka perbaiki baju-baju yang robek itu untuk menyongsong sore yang lebih indah.
‘Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane’. Mumpung masih ada kesempatan, mumpung masih ada jalan. Selama masih ada waktu untuk memperbaiki baju-baju kehidupan, selama masih ada jalan maka perbaikilah. ‘Gya suraka, surak hore’. Maka bertepuk tanganlah dan berserulah hore. Jika baju-baju kehidupan itu telah berhasil diperbaiki maka semua akan menjadi bahagia. Maka bersama-samalah bertepuk tangn dan katakana hore, dan bersama-sama menuju kehidupan yang bahagia selama-lamanya.
Setelah ilir-ilir dilantukan dan dibabar(dikaji) maka semua hidangan makanan yang dinikmati bersama-sama dalam suasana gayeng(menyenangkan). Saat itu pula anak jawa diajarkan untuk selalu berbagi kebahagiaan kepada semua orang. Berbagi ilmu, berbagi rejeki, berbagi kebaikan kepada semua mahluk ciptaan tuhan.
*** Mohon perbaikan kalau ada kesalahan
1 comment Januari 23, 2008
Jalan-jalan Banjarmasin
Sudah dua kali saya menginjakkan kaki ke Borneo or Kalimantan. Sebenarnya saya lebih suka untuk menyebut Borneo karena kesan akrab saat mengatakanya. Perjalanan saya yang pertama dulu adalah ke Pontianak dan sekitarnya. Sayang perjalan pertama itu tidak sempat saya abadikan dalam bentuk foto.
Tanah Borneo adalah ’Tanah Air’ dalam arti yang sebenarnya. Kenapa saya sebut tanah air? Karena pulau ini adalah pulau air. Jadi tanah yang ada di pulau ini bisa dikatakan tanah yang menyembul dari dalam air. Kemanapun anda saya pergi dalam hitungan jam bahkan menit maka akan ditemui sungai-sungai yang menghubungkan dua daratan.Bahkan untuk transportasi utama di pulau ini adalah transportasi air.
Dialiran sungai inilah nafas hidup sebagian besar orang-orang borneo bergantung. Mulai dari untuk urusan mandi, mencuci, urusan buang-buang’penyakit’, sampai urusan mencari sumber penghidupan.
Namun pada beberapa bagian lainya Borneo menyimpan eksotisme yang mungkin jarang dilihat oleh para pendatang. Beruntung saya sempat menikmati sedikit dari beberapa tempat eksotisme itu. Perjalan panjang terasa nikmat karena disepanjang perjalan saya dapat menikmati pesona alam Borneo. Rumah-rumah adat yang telah termakan usia, hutan bambu pada beberapa sisi, hulu sungai dengan air jernihnya, ngarai dengan akhir sungai, dinding dinding bebatuan alam bahkan tawa riang bocah-bocah kecil yang melambaikan tangan meski saya tak mengenal mereka.
Dengan kamera digital murah saya mencoba mengabadikan momen ini. Foto
Satu saat saya berharap bisa mengelilingi nusantara meskipun hanya sebentar dan mengabadikanya dalam hati.
1 comment Januari 17, 2008
KEINDAHAN
Suatu hari sepasang kakek nenek ingin memberikan hadiah untuk ulang tahun cucu yang sangat disayanginya. Keduanya kemusian pergi ke super market untukmencari hadiah. Keduanya berjalan dari satu sudut kesudut yang lain, dari satu gerai ke erai yang lain. Sampai pada satu saat keduanya melihat barang yang sangat indah disudut yang tidak begitu ramai. Barang yang tersembunyi diantara barang-barang lain yang dipajang. Diantara tumpukan benda-benda itu nampak sebuah gelas keramik yang terlihat lebih indah.
Kedua kakek nenek itu terus memperhatikan gelas itu dengan pandangan takjub. Dari mulut mereka keluar puja-puji kepada gelas yang dimata keduanya tampak sangat indah. Decak kagum tak percaya, bagaimana mungkin sebuah gelas bisa terlihat begitu indah.
Sang Nenek kemudian bertanya,”Bagaimana kamu bisa terlihat begitu indah Gelas?”.
Tanpa diduga Sang Gelas menjawab,”Dahulu aku tidak seindah ini Nenek? Dulu aku hanya seonggok tanah liat yang kotor. Tak ada seorangpun yang berjalan disebelahku memperhatikan aku. Tiap hari aku selalu diinjak-injak, sering akuk diludahi, bahkan tak jarang aku dikencingi. Aku hanya bisa menangis dan berdoa semoga satu saat semua orang akan melihatku.
Sang Gelas Tersenyum melihat pasangan tua itu melihat padanya tanpa berkedip.
“Kemudian,”lanjut Sang Gelas,”satu hari datang seseorang dengan pedati tuanya lewat diatasku. Tiba-tiba pedati tua itu terperosok rodanya dan sebagian barang yang ada diatas gerobaknya tumpah ke atasku. Roda itu tepat mengenai tas kepalaku. Rasanya sakit sekali terkena roda kayu, ditambah lagi dengan barang-barang yang menimpa tubuhku. Sang sais pedatipun terjatuh tepaat mengenai bagian kakiku. Beberapa bagian tubunya tampak membiru terkena hantaman kayu pedatinya. Laki-laki itu bangun dan mengamati roda kayu pedati yang hampir patah. Laki-laki tua itu kemudian mulai mengangkat roda dari atas kepalaku, dan mendorongnya. Roda itu bergerak sedikit dan menggelinding menutup sebagian pandanganku. Rasanya sakit sekali. Segera kuseka mataku dengan sisa tumpahan dari tempat air laki-laki tua itu.”
Sang Gelas menatap Kakek-Nenek itu dengan seksama. Kemudian lanjutnya,”Tiba-tiba Sais tua itu menatapku lama. Baru kali ini aku melihat tatapan yang tiba-tiba saja membuatku berdebar-debar. Sais tua itu mengambil entah apa. Penglihatanku yang masih kabur membuat aku tak tahu benda apa itu. Yang aku rasakan adalah perasaan tiba-tiba aku melayang. Sekelilingku menjadi gelap. Rasa gatal semakin menambah siksaan karena tempat itu terasa kasar dan pengap. Tubuhku hanya sesaat serasa melayang karena kemudian tubuhku tiba-tiba terhempas, serasa dilemparkan dengan kasar. Belum genap kesadaranku, tubuhku berguncang-guncang. Rasa gatal semakin menjadi-jadi. Pusing juga mulai menyerang karena guncangn-guncangan yang tak henti-hentinya. Siksaan itu semakin lengkap dengan perut yang mulai terasa mual.”
Sang Gelas menerawang mengingat-ingat kembali kejadian yang telah dilaluinya. Kemudian lanjutnya,’’Setelah beberapa saat terguncang-guncang, pedati itupun berhenti. Untuk kedua kalinya dalam kegelapan tubuhku terasa melayang dan diikuti dengan hempasan kasar. Saat itulah aku merasakan rasa ngeri yang amat sangat. Setelah terhempas kegelapan terasa semakin menjadi-jadi. Tempat gelap ini terasa lebih lembab. Tetapi cairan dalam tubuhku sudah terlanjur banyak menguap. Tubuhkut terasa mulai mongering. Aku meronta sekuatnya, tetapi entah apa yang mengikat tempat ini. Dalam keputusasaan aku pingsan.”
Sang Gelas tertunduk. Kakek Nenek itupun mengusap air mata yang menetes disela-sela kulinya yang keriput.”Kemudian,” lanjut Sang Gelas.,” Aku baru sadar saat percikan air dingin membasahi tubuhku. Udara terasa lebih segar. Disebelahku teronggok sebuah kantung kumal. Oh… barangkali ini kantung yang membawaku, gumamku.. Belum genap kebahagiaanku merasakan udara kebebasan, tiba-tiba tubuhku diinjak-injak lelaki tua sais pedati. Lagi-lagi orang tua itu menyiksaku. Aku berteriak kesakitan, tetapi ia diam saj dan terus menginjakku. Tak sampai disitu, ia kemudian menaikkanku kesebuah roda berputar. Badanku berputar-putar diatas roda. Kembali rasa mual dan pusing menerkamku”.
“Lelaki tua itu ters memutarku. Terus dan terus.”. Sang Gelas berhenti sesaat. Kemudian,” aku masih terus berputar. Bahkan teriakan-teriakanku tak pernah dihiraukan. Aku terus menangis. Tapi ia tak peduli. Terus memutarku, bahkan membuang-buang sebagian tubuhku dan mencampakkanya. Setelah putaran berhenti tubuhku menjadi aneh. Tak pernah kudapati tubuh yang seperti ini. Belum selesai keherananku, tubuhku diangkat, dan laki-laki tua itu menyandingkanya dengan entah siapa saja mereka. Tubuh-tubuh dingin disebelahku mempunya bentuk yang sama denganku. Semalan aku dibiarkan teronggok bersama tubuh tubuh serupa. Sebenarnya aku merasa lega dengan keadaanku. Tetapi keesokan hari, siksaan terhadapku kembali terjadi”.
“Sais tua itu menjemur tubuhku dalam terik matahari. Tubuh tubuh yang menyerupai akupun mengalami nasib yang sama. Tubuhku semakin panas. Aku mulai kembali berteriak-teriak kepanasan. Teriakan-teriakan dari tubuh-tubuh yang lainpun saling bersahutan. Tubuhku mulai mongering. Beberapa tubuh yang lainya juga mulai mongering. Beberapa bahkan tak kuat menahan panas ini. Tubh mereka merekah. Bahakan ada beberapa tubuh ini yang hancur berkeping-keping”.
“Tubuhku sudah sangat kering. Tak ada lagi cairan dalam tubuhku. Aku sekarat”. Sang Gelas menghalau nafas panjang, lanjutnya.” Sore harinya kami dipungut satu persatu. Beberapa tubuh serupaku bernasib malang. Tubuh mereka pecah-pecah, retak bahkan ada yang remuk. Tubuh merekapun dilemparkan keonggokan sampah bersama pecahan-pecahan yang lain. Aku beruntung karena tidak dilemparkan Sais Tua itu. Tapi ternyata rasa legaku hilang hanya dalam sesaat. Kemalanganku belum berhenti. Aku kemudian dimasukkan kedalam lubang-lubang sempit yang penuh jelaga. Udara didalamya lebih menyiksa dari pada saat didalam kantung. Aku bertanya,” Pak Tua, tak bisakah kau perlakukan kami dengan lebih baik?”. Tapi ia diam tak menjawa. Ia malah menimbuni kami dengan jerami aku tak kuasa lagi berteriak”.
“ Tak berhenti disitu tiba-tiba udara menjadi hangat yang tak berapa lama bahkan menjadi tersa panas. Teriakan kepanasan kami tak membuat Sais Tua itu iba. Ia malah bersenandung, entah lagu apa. Disekelilingku terasa seperti neraka. Panas. Sangat panas. Dalam bara api aku tak tahu apa lagi yang mesti aku lakukan. Namun tiba-tiba kesadaranku muncul. Ini untuk kesekian kalinya lelaki tua itu menyiksaku. Mungkin karena tempaan penderitaan sebelumnya menjadikan aku lebih tegar menerima cobaan ini. Entah berapa lama aku berada dalam bara api”.
“Setelah kurasakan sekitarku mulai mendingin, sesosok tangan keriput mengangkatku dari abu yang menutupi seluruh tubuh. Tangan itu menimang-nimang aku. Raut wajahnya merona gembira. Akupun tak lagi mendapati tubuhku yang kotor, bau. Aku mendapati tubuhku yang sangat indah. Dalam cahaya terang bulan malam itu, tubuhku tampak berkilauan. Beberapa tubuh yang terbakar bersamaku tampak rusak. Ada dari mereka yang retak, pecah berantakan, bahkan beberapa menjadi tubuh-tubuh yang tidak sempurna. Setelah beberapa lam menghuni rumah Sais Tua itu akupun dijual dan akhirnya aku sampai disini. Bisa bertemu dengan Kakek dan Nenek”.
Pasangan tua itu tersenyum. Nenek berkata,”Kami akan membelimu”.
“Terimakasih Nek?” jawab Sang Gelas,” aku akan lebih bahagia jika ada yang memanfaatkan aku dengan sebaik-baiknya”.
Pasanga tua itu kemudian membawa Sang Gelas pulang. Akan diceritakanya asal-usul hadiah itu pada cucu yang mereka sayangi. Akan diceritakanya bahwa Tuhan hanya melahirkan manusia-manusia berkualitas terbaik melalui jalan berliku. Melalui berbagai cobaan dan penderitaan. Dan hanya mereka yang mampu bertahan yang akan menjadi manusia-manusia terbaik dimata manusi dan Tuhan.
Add comment Januari 16, 2008
Jadilah Diri Sendiri
Suatu hari sepulang sekolah seorang anak lelaki datang mengadu sambil menangis kepada ibunya. Diceritakanya pada sang ibu ia diolok olok oleh teman-teman sekolahnya. Teman-temanya mengatakan kalau ia anak jelek, pendek, tidak tampan dan miskin. Tak ada yang bisa dibanggakan darinya.
Dengan kasih tulus seorang ibu, wanita itu mendekap anaknya yang menangis. Dengan tersenyum diusapnya kepala sang anak, dihapusnya air mata yang mengalir disela pipi mungil itu. Ditatapnya mata kecil itu dengan rasa kasih sayang dan ucapnya,”Kamu tidak perlu kawatir. Semua bukan masalah. Apapun kamu, kamu adalah permata ibu. Percayalah pada ibu, kamu tidak usah menjadi orang lain untuk menyenangkan ibu. Karena kamu sudah sempurna.”
Mata perempuan itu bersinar-sinar melihat wajah anaknya yang masih sedih, kemudian lanjutnya,”Setiap manusia dilahirkan dengan keunikanya sendiri-sendiri. Kita semua dilahirkan berbeda. Pandanglah matamu, kamu punya mata yang bersinar indah. Kamu punya hidung yang lucu, kamu punya rambut yang unik, telinga yang unik, wajah yang unik. Kamu punya sesuatu yang bisa dibagi kepada dunia. Jangan berubah untuk menyenangkan diri ibu, ibu mencintaimu apa adanya”.
Bertahun-tahun setelah kejadian itu sang anak benar-benar menbuktikan apa yang dikatakan ibunya yaitu membagikan sesuatu kepada dunia. Lewat lirik lagu-lagunya ia mengabarkan kepada dunia bahwa yang terbaik adalah menjadi diri sendiri. Tahukah anda siapakah bocah kecil itu? Dialah Billy Joel salah satu maestro musik dunia.
Dari kisah ini kita bisa belajar bagaimana cinta seorang ibu kepada anaknya. Pada saat anak berduka ibu yang pertama menjadi mata air yang mengobati semua duka. Cinta tanpa syarat dari seorang ibu, menjadikan seorang anak belajar bagaimana seharusnya mencintai. Cinta tanpa syarat, tidak memandang warna kulit, kaya miskin, baik buruk rupa, dsb.
Yang kedua kita juga bisa belajar bahwa menjadi diri sendiri adalah yang terbaik. Kita tidak harus mengubah diri hanya untuk menyenangkan orang lain. Maka bersyukurlah orang-orang yang mampu menjadikan orang lain saat bertemu dengan anda, menjadikan orang itu menjadi dirinya sendiri.
Yang ketiga kita belajar bagaimana seharusnya” tidak pernah berhenti untuk mencintai”. Apapun yang terjadi dengan orang yang kita cintai tetaplah mencintai. Apapun yang diraih anak, apakah itu sebuah kesuksesan atau kegagalan tetap curahkan cinta yang sama, cinta yang tulus tanpa pamrih.
Cinta tulus dari ibu menjadi mata air yang akan terus menyirami setiap langkah. “Ibu tidak pernah menyiram pohon ketika berbunga, tetapi ia menyiram pohon maka akan berbunga”. Dan pada saat berbunga ibu pun akan tetap menyiram dengan cinta yang sama.
Add comment Januari 16, 2008