Posts filed under 'Java'
SEWINDU ANAK JAWA
Usia sewindu bagi anak jawa adalah usia transisi dimana seorang anak akan menuju pada masa remaja. Masa ini disebut juga sebagai masa akil baligh. Saat usia sewindu seorang anak jawa untuk menuju pada masa remajanya antara lain ditandai dengan prosesi khitan untuk anak laki-laki dan tetesan untuk anak perempuan.
Untuk mengantar anak menuju masa dewasa, orang-orang tua Jawa diharuskan memberi wewarah kepada anak-anaknya sebagai bekal menghadapi dunia yang jauh lebih kompleks. Wewarah ini antara lain disampaikan orang tua melalui perlambang-perlambang dalam upacara sebelum prosesi khitan atau tetesan dalam berbagai kemasan.
Ritual awal seorang anak laki-laki sebelum dikhitan terlebih dahulu dimasukkan kedalam kerobong atau semacam kurungan dengan iringan doa-doa saat membuka kurungan sebagai perlambang bahwa pada mulanya seorang anak(manusia) sebelum dilahirkan berada dalam keadaan yang terkurung didalam rahim seorang ibu. Selain menandakan prosesi kelahiran, ritual ini juga bisa diartikan sebagai proses perpindahan masa yaitu dari masa anak-anak menuju masa remaja.
Perlambang lain diungkapkan oleh orang tua Jawa dengan berbagai sesaji yang disediakan. Sesaji ini berupa makanan dan benda-benda yang melambangkan daur kehidupan manusia. Misalnya adalah dian (lampu/pelita), menandakan bahwa untuk mengarungi hidup seseorang harus mempunyai alat untuk menerangi jalan yang akan dilaluinya. Selain itu juga dian juga menandakan bahwa pada hakekatnya setiap hidup manusia hendaknya berguna dengan untuk sesama yaitu menjadi penerang hidup bagi sesamanya. Dan tujuan hidup manusia yang terakhir adalah perjalanan hidup menuju terang, menuju cahaya, menuju yang memiliki cahaya yaitu Allah Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam sesaji ini disediakan juga berbagai bahan makanan yang berupa pala kependem, pala kesiwar dan pala gumantung. Sesaji ini sebagai perlambang bahwa untuk dapat hidup seseorang memerlukan bekal. Bekal hidup dapat diperoleh antara lain dari dalam tanah, dipermukaan dan diatas tanah. Bekal yang masih mentah ini untuk selanjutnya agar lebih berguna maka perlu untuk mengolah dan memanfaatkanya lebih lanjut.
Karena itu orang tua Jawa kemudian memberi perlambang selanjutnya adalah dengan makanan-makanan yang matang. Makanan sebagai perlambang antara lain yaitu berupa jenang, gula kelapa setangkep, lepet, kupat, jajan pasar dan tumpeng dengan lauk. Didalam makanan ini juga terkandung simbol perjalanan hidup seseorang. Jenang segi empat menandakan bahwa pada dasarnya arah mempunyai empat penjuru, yaitu Utara. Selatan, Timur dan Barat. Jenang dengan rasa manis memberi gambaran seandainya seseorang mampu menaklukan kempat arah itu maka hidupnya akan semanis rasa jenang.
Untuk mengarungi bahtera kehidupan pasti seseorang memerlukan teman seperjalan. Teman yang memberi semangat dalam suka dan duka. Teman seperti ini akan menjadikan hidup lebih indah(manis). Perlambang ini dapat kita temui dalam sesaji berupa gula kelapa setangkep. Gula kelapa setangkep juga bisa diartikan sebagai sepasang laki-laki dan perempuan, kehidupan selalu berpasang-pasangan.
Dalam perjalan kehidupan seseorang terkadang juga melakukan berbagi macam kesalahan. Dan sebagai sebagai keharusan pula seorang anak Jawa harus berani mengakui kesalahan kesalahan itu dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya. Perlambang dalam sesaji sewindu anak Jawa ini yaitu berupa lepet dan kupat. Lepet berasal dari kata lepat yang berarti salah. Dan dengan berani seorang anak jawa harus mengakui kesalahanya yang ditandai dengan kupat yang berasasl dari kata ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan.
Sesaji berupa jajan pasar dengan berbagai bentuk rupa, warna dan rasa menandakan bahwa kehidupan didunia terdiri dari bermacam-macam manusia. Ada yang berkulit hitam, putih, kuning. Ada yang tinggi, pendek, besar kecil. Ada yang keriting lurus, ikal. Ada yang kurus gemuk dsb. Dengan banyaknya warna kehidupan ini seorang anak Jawa harus mampu menjadi orang yang toleran. Menerima setiap perbedaan sesuai dengan fitrahnya.
Selain dengan wewarah berupa perlambang dari sesaji seorang anak Jawa juga dibekali wewarah langsung dari orang tuanya atau dari orang yang dituakan dikampung. Wewarah antara lain disampaikan melalui tembang yang sering dinyanyikan bersama-sama yaitu berupa tembang ilir-ilir. Dalam tembang ini terkandung pelajaran nilai moral, etika dan spiritual seorang anak Jawa. Ada pendapat yang menciptakan tembang ini adalah Sunan Giri, namun ada yang mengatakan diciptakan oleh Sunan Kalijaga.
Pesan dalam tembang ini tidak hanya ditujukan kepada anak Jawa yang akan memasuki akil bligh tetapi juga ditujukan kepada orang tua si anak yaitu agar orang tua membekali anak dengan bekal yang sebaik-baiknya.
Syair’Ilir-ilir, ilir-ilir tandure wis sumilir’ mengandung arti sadarlah, bangun dari mimpi-mimpi, kehidupan mulai berjalan. Jika diuraikan lebih lanjut tembang ini megingatkan kepada orang tua agar sadar kalau anak-anak mereka mulai tumbuh. Jadi bangunkan mereka dari mimpi-mimpi masa kanak-kanaknya. Anak-anak ini harus mulai belajar memahami kehidupan. Manusia diingatkan untuk bangun dari dari tidur, dari kebodohan, dari kemiskinan, dari keterbelakangan, untuk melihat tandure(kehidupan/masa depan) yang sumilir(terus bergerak).
‘Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar’. Pertumbuhan anak yang baik ditandai dengan kalimat ‘tak iji royo-royo’. Seperti proses tumbuh tanaman yang ditandai dengan daun hijau segar menandakan bahwa pertumbuhan itu berjalan dengan baik. Proses tumbuh seorang anak yang baik diperlambangkan dengan warna hijau yang menyejukkan, menyenangkan, seperti sepasang pengantin baru yang membuat senang orang yan melihatnya. Ijo royo-royo(Hijau yang berkilau) juga sebagai penanda harapan hidup yang cerah dimasa datang.
‘Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodot ira’. Panjatlah blimbing itu, meskipun susah, panjatlah, untuk membasuh baju kehidupanmu. Meskipun untuk meraih kebahagiaan hidup sangat susah, seorang anak tidak boleh menyerah. Meskipun buah kebahagiaan itu berada ditempat yang lunyu(susa diraih) seorang anak Jawa haru berusaha sekuat tenaga meraihnya. Sesusah apapun harus dicapai untuk membasuh dodot iro. Dodot iro adalah baju kehidupanmu. Baju kehidupan adalah perbuatan-perbuatan yang dikerjakan seorang manusia Jawa dalam kehidupannya.
‘Dodot iro-dodot iro kumitir bedah ing pinggir, dandamana, jlumatana kanggo seba mengko sore. Baju kehidupan kadang mengalami sobek dipingginya karena itu dandamana, jlumatana(jahitlah), perbaiki baju itu untuk bekal nanti sore. Dalam perjalanan hidupnya seorang manusia Jawa tidak lepas dari kesalahan, karena itu sebelum datangnya waktu sore, maka perbaiki bekal untuk menuju waktu sore itu. Jika baju-baju kehidupan ini tidak segera diperbaiki maka seorang manusia Jawa akan sengsara dimasa sorenya(tua). Maka perbaiki baju-baju yang robek itu untuk menyongsong sore yang lebih indah.
‘Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane’. Mumpung masih ada kesempatan, mumpung masih ada jalan. Selama masih ada waktu untuk memperbaiki baju-baju kehidupan, selama masih ada jalan maka perbaikilah. ‘Gya suraka, surak hore’. Maka bertepuk tanganlah dan berserulah hore. Jika baju-baju kehidupan itu telah berhasil diperbaiki maka semua akan menjadi bahagia. Maka bersama-samalah bertepuk tangn dan katakana hore, dan bersama-sama menuju kehidupan yang bahagia selama-lamanya.
Setelah ilir-ilir dilantukan dan dibabar(dikaji) maka semua hidangan makanan yang dinikmati bersama-sama dalam suasana gayeng(menyenangkan). Saat itu pula anak jawa diajarkan untuk selalu berbagi kebahagiaan kepada semua orang. Berbagi ilmu, berbagi rejeki, berbagi kebaikan kepada semua mahluk ciptaan tuhan.
*** Mohon perbaikan kalau ada kesalahan
1 comment Januari 23, 2008