KEINDAHAN
Suatu hari sepasang kakek nenek ingin memberikan hadiah untuk ulang tahun cucu yang sangat disayanginya. Keduanya kemusian pergi ke super market untukmencari hadiah. Keduanya berjalan dari satu sudut kesudut yang lain, dari satu gerai ke erai yang lain. Sampai pada satu saat keduanya melihat barang yang sangat indah disudut yang tidak begitu ramai. Barang yang tersembunyi diantara barang-barang lain yang dipajang. Diantara tumpukan benda-benda itu nampak sebuah gelas keramik yang terlihat lebih indah.
Kedua kakek nenek itu terus memperhatikan gelas itu dengan pandangan takjub. Dari mulut mereka keluar puja-puji kepada gelas yang dimata keduanya tampak sangat indah. Decak kagum tak percaya, bagaimana mungkin sebuah gelas bisa terlihat begitu indah.
Sang Nenek kemudian bertanya,”Bagaimana kamu bisa terlihat begitu indah Gelas?”.
Tanpa diduga Sang Gelas menjawab,”Dahulu aku tidak seindah ini Nenek? Dulu aku hanya seonggok tanah liat yang kotor. Tak ada seorangpun yang berjalan disebelahku memperhatikan aku. Tiap hari aku selalu diinjak-injak, sering akuk diludahi, bahkan tak jarang aku dikencingi. Aku hanya bisa menangis dan berdoa semoga satu saat semua orang akan melihatku.
Sang Gelas Tersenyum melihat pasangan tua itu melihat padanya tanpa berkedip.
“Kemudian,”lanjut Sang Gelas,”satu hari datang seseorang dengan pedati tuanya lewat diatasku. Tiba-tiba pedati tua itu terperosok rodanya dan sebagian barang yang ada diatas gerobaknya tumpah ke atasku. Roda itu tepat mengenai tas kepalaku. Rasanya sakit sekali terkena roda kayu, ditambah lagi dengan barang-barang yang menimpa tubuhku. Sang sais pedatipun terjatuh tepaat mengenai bagian kakiku. Beberapa bagian tubunya tampak membiru terkena hantaman kayu pedatinya. Laki-laki itu bangun dan mengamati roda kayu pedati yang hampir patah. Laki-laki tua itu kemudian mulai mengangkat roda dari atas kepalaku, dan mendorongnya. Roda itu bergerak sedikit dan menggelinding menutup sebagian pandanganku. Rasanya sakit sekali. Segera kuseka mataku dengan sisa tumpahan dari tempat air laki-laki tua itu.”
Sang Gelas menatap Kakek-Nenek itu dengan seksama. Kemudian lanjutnya,”Tiba-tiba Sais tua itu menatapku lama. Baru kali ini aku melihat tatapan yang tiba-tiba saja membuatku berdebar-debar. Sais tua itu mengambil entah apa. Penglihatanku yang masih kabur membuat aku tak tahu benda apa itu. Yang aku rasakan adalah perasaan tiba-tiba aku melayang. Sekelilingku menjadi gelap. Rasa gatal semakin menambah siksaan karena tempat itu terasa kasar dan pengap. Tubuhku hanya sesaat serasa melayang karena kemudian tubuhku tiba-tiba terhempas, serasa dilemparkan dengan kasar. Belum genap kesadaranku, tubuhku berguncang-guncang. Rasa gatal semakin menjadi-jadi. Pusing juga mulai menyerang karena guncangn-guncangan yang tak henti-hentinya. Siksaan itu semakin lengkap dengan perut yang mulai terasa mual.”
Sang Gelas menerawang mengingat-ingat kembali kejadian yang telah dilaluinya. Kemudian lanjutnya,’’Setelah beberapa saat terguncang-guncang, pedati itupun berhenti. Untuk kedua kalinya dalam kegelapan tubuhku terasa melayang dan diikuti dengan hempasan kasar. Saat itulah aku merasakan rasa ngeri yang amat sangat. Setelah terhempas kegelapan terasa semakin menjadi-jadi. Tempat gelap ini terasa lebih lembab. Tetapi cairan dalam tubuhku sudah terlanjur banyak menguap. Tubuhkut terasa mulai mongering. Aku meronta sekuatnya, tetapi entah apa yang mengikat tempat ini. Dalam keputusasaan aku pingsan.”
Sang Gelas tertunduk. Kakek Nenek itupun mengusap air mata yang menetes disela-sela kulinya yang keriput.”Kemudian,” lanjut Sang Gelas.,” Aku baru sadar saat percikan air dingin membasahi tubuhku. Udara terasa lebih segar. Disebelahku teronggok sebuah kantung kumal. Oh… barangkali ini kantung yang membawaku, gumamku.. Belum genap kebahagiaanku merasakan udara kebebasan, tiba-tiba tubuhku diinjak-injak lelaki tua sais pedati. Lagi-lagi orang tua itu menyiksaku. Aku berteriak kesakitan, tetapi ia diam saj dan terus menginjakku. Tak sampai disitu, ia kemudian menaikkanku kesebuah roda berputar. Badanku berputar-putar diatas roda. Kembali rasa mual dan pusing menerkamku”.
“Lelaki tua itu ters memutarku. Terus dan terus.”. Sang Gelas berhenti sesaat. Kemudian,” aku masih terus berputar. Bahkan teriakan-teriakanku tak pernah dihiraukan. Aku terus menangis. Tapi ia tak peduli. Terus memutarku, bahkan membuang-buang sebagian tubuhku dan mencampakkanya. Setelah putaran berhenti tubuhku menjadi aneh. Tak pernah kudapati tubuh yang seperti ini. Belum selesai keherananku, tubuhku diangkat, dan laki-laki tua itu menyandingkanya dengan entah siapa saja mereka. Tubuh-tubuh dingin disebelahku mempunya bentuk yang sama denganku. Semalan aku dibiarkan teronggok bersama tubuh tubuh serupa. Sebenarnya aku merasa lega dengan keadaanku. Tetapi keesokan hari, siksaan terhadapku kembali terjadi”.
“Sais tua itu menjemur tubuhku dalam terik matahari. Tubuh tubuh yang menyerupai akupun mengalami nasib yang sama. Tubuhku semakin panas. Aku mulai kembali berteriak-teriak kepanasan. Teriakan-teriakan dari tubuh-tubuh yang lainpun saling bersahutan. Tubuhku mulai mongering. Beberapa tubuh yang lainya juga mulai mongering. Beberapa bahkan tak kuat menahan panas ini. Tubh mereka merekah. Bahakan ada beberapa tubuh ini yang hancur berkeping-keping”.
“Tubuhku sudah sangat kering. Tak ada lagi cairan dalam tubuhku. Aku sekarat”. Sang Gelas menghalau nafas panjang, lanjutnya.” Sore harinya kami dipungut satu persatu. Beberapa tubuh serupaku bernasib malang. Tubuh mereka pecah-pecah, retak bahkan ada yang remuk. Tubuh merekapun dilemparkan keonggokan sampah bersama pecahan-pecahan yang lain. Aku beruntung karena tidak dilemparkan Sais Tua itu. Tapi ternyata rasa legaku hilang hanya dalam sesaat. Kemalanganku belum berhenti. Aku kemudian dimasukkan kedalam lubang-lubang sempit yang penuh jelaga. Udara didalamya lebih menyiksa dari pada saat didalam kantung. Aku bertanya,” Pak Tua, tak bisakah kau perlakukan kami dengan lebih baik?”. Tapi ia diam tak menjawa. Ia malah menimbuni kami dengan jerami aku tak kuasa lagi berteriak”.
“ Tak berhenti disitu tiba-tiba udara menjadi hangat yang tak berapa lama bahkan menjadi tersa panas. Teriakan kepanasan kami tak membuat Sais Tua itu iba. Ia malah bersenandung, entah lagu apa. Disekelilingku terasa seperti neraka. Panas. Sangat panas. Dalam bara api aku tak tahu apa lagi yang mesti aku lakukan. Namun tiba-tiba kesadaranku muncul. Ini untuk kesekian kalinya lelaki tua itu menyiksaku. Mungkin karena tempaan penderitaan sebelumnya menjadikan aku lebih tegar menerima cobaan ini. Entah berapa lama aku berada dalam bara api”.
“Setelah kurasakan sekitarku mulai mendingin, sesosok tangan keriput mengangkatku dari abu yang menutupi seluruh tubuh. Tangan itu menimang-nimang aku. Raut wajahnya merona gembira. Akupun tak lagi mendapati tubuhku yang kotor, bau. Aku mendapati tubuhku yang sangat indah. Dalam cahaya terang bulan malam itu, tubuhku tampak berkilauan. Beberapa tubuh yang terbakar bersamaku tampak rusak. Ada dari mereka yang retak, pecah berantakan, bahkan beberapa menjadi tubuh-tubuh yang tidak sempurna. Setelah beberapa lam menghuni rumah Sais Tua itu akupun dijual dan akhirnya aku sampai disini. Bisa bertemu dengan Kakek dan Nenek”.
Pasangan tua itu tersenyum. Nenek berkata,”Kami akan membelimu”.
“Terimakasih Nek?” jawab Sang Gelas,” aku akan lebih bahagia jika ada yang memanfaatkan aku dengan sebaik-baiknya”.
Pasanga tua itu kemudian membawa Sang Gelas pulang. Akan diceritakanya asal-usul hadiah itu pada cucu yang mereka sayangi. Akan diceritakanya bahwa Tuhan hanya melahirkan manusia-manusia berkualitas terbaik melalui jalan berliku. Melalui berbagai cobaan dan penderitaan. Dan hanya mereka yang mampu bertahan yang akan menjadi manusia-manusia terbaik dimata manusi dan Tuhan.
Add comment Januari 16, 2008
Jadilah Diri Sendiri
Suatu hari sepulang sekolah seorang anak lelaki datang mengadu sambil menangis kepada ibunya. Diceritakanya pada sang ibu ia diolok olok oleh teman-teman sekolahnya. Teman-temanya mengatakan kalau ia anak jelek, pendek, tidak tampan dan miskin. Tak ada yang bisa dibanggakan darinya.
Dengan kasih tulus seorang ibu, wanita itu mendekap anaknya yang menangis. Dengan tersenyum diusapnya kepala sang anak, dihapusnya air mata yang mengalir disela pipi mungil itu. Ditatapnya mata kecil itu dengan rasa kasih sayang dan ucapnya,”Kamu tidak perlu kawatir. Semua bukan masalah. Apapun kamu, kamu adalah permata ibu. Percayalah pada ibu, kamu tidak usah menjadi orang lain untuk menyenangkan ibu. Karena kamu sudah sempurna.”
Mata perempuan itu bersinar-sinar melihat wajah anaknya yang masih sedih, kemudian lanjutnya,”Setiap manusia dilahirkan dengan keunikanya sendiri-sendiri. Kita semua dilahirkan berbeda. Pandanglah matamu, kamu punya mata yang bersinar indah. Kamu punya hidung yang lucu, kamu punya rambut yang unik, telinga yang unik, wajah yang unik. Kamu punya sesuatu yang bisa dibagi kepada dunia. Jangan berubah untuk menyenangkan diri ibu, ibu mencintaimu apa adanya”.
Bertahun-tahun setelah kejadian itu sang anak benar-benar menbuktikan apa yang dikatakan ibunya yaitu membagikan sesuatu kepada dunia. Lewat lirik lagu-lagunya ia mengabarkan kepada dunia bahwa yang terbaik adalah menjadi diri sendiri. Tahukah anda siapakah bocah kecil itu? Dialah Billy Joel salah satu maestro musik dunia.
Dari kisah ini kita bisa belajar bagaimana cinta seorang ibu kepada anaknya. Pada saat anak berduka ibu yang pertama menjadi mata air yang mengobati semua duka. Cinta tanpa syarat dari seorang ibu, menjadikan seorang anak belajar bagaimana seharusnya mencintai. Cinta tanpa syarat, tidak memandang warna kulit, kaya miskin, baik buruk rupa, dsb.
Yang kedua kita juga bisa belajar bahwa menjadi diri sendiri adalah yang terbaik. Kita tidak harus mengubah diri hanya untuk menyenangkan orang lain. Maka bersyukurlah orang-orang yang mampu menjadikan orang lain saat bertemu dengan anda, menjadikan orang itu menjadi dirinya sendiri.
Yang ketiga kita belajar bagaimana seharusnya” tidak pernah berhenti untuk mencintai”. Apapun yang terjadi dengan orang yang kita cintai tetaplah mencintai. Apapun yang diraih anak, apakah itu sebuah kesuksesan atau kegagalan tetap curahkan cinta yang sama, cinta yang tulus tanpa pamrih.
Cinta tulus dari ibu menjadi mata air yang akan terus menyirami setiap langkah. “Ibu tidak pernah menyiram pohon ketika berbunga, tetapi ia menyiram pohon maka akan berbunga”. Dan pada saat berbunga ibu pun akan tetap menyiram dengan cinta yang sama.
Add comment Januari 16, 2008
Kisah siswi Palestina
Ini adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah sekolah putri di Palestina. Hari itu dewan sekolah berkumpul seperti biasanya. Di antara keputusan dan rekomendasi yang (lagi…)
Add comment Januari 5, 2008
belum ada judul
Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya
menyerahkan seluruh kemampuanku
untuk menyapamu dengan kemesraan yang
paling berterus terang”apa kabar sayang?”
Tapi kau pergi tanpa mengucap selamat tinggal
atau kecupan penghabisan
Aku melihat bayangan-bayangan berlari
bergegas menembus hujan
Dengan cara apa aku harus memahami
kepergianmu yang diam-diam
Seorang gadis kecil dengan mata besar kehijauan
memegang kaleng susu bubuk menggigil kedinginan
menyodorkan kepadaku
Aku merasa pernah melihat gadis kecil ini
disuatu tempat
Atau barangkali dalam puisi-puisimu dulu
1 comment Desember 30, 2007